BERAGAM SANDI UNTUK MENYEBUT UANG DALAM TRANSAKSI KORUPSI

Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan uang dalam 3 koper besar dari rumah Ketua DPRD Bangkalan, Fuad Amin Imron di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Beragam kata, istilah dan kode samaran untuk menyebut uang dalam transaksi korupsi. Sandi itu, biasanya hanya diketahui oleh sesama koruptor. Bahasa rahasia itu dipakai bertujuan untuk memuluskan proses negosiasi antara mereka.

Namun serapat apapun para koruptor itu menyembunyikan tindakan lewat peristilahan mereka, pengadilan selalu menjadi tempat untuk mengungkapnya. Berikut beberapa istilah atau sandi para koruptor yang terungkap di Pengadilan Tindak Pidana korupsi Jakarta. Istilah-istilah ini kemudian menjadi populer di masyarakat setelah media setelah diungkap di pengadilan.

  1. Pempek Palembang

Terakhir, Kamis (8/1), saksi kasus suap sengketa Pemilihan Kepala Daerah Palembang, Miko Panji Tirtayasa, menyebutkan ada permintaan ‘empek-empek’ dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar. Permintaan tersebut terjadi saat Akil menangani kasus suap yang diajukan bekas Wali Kota Palembang, Romi Herton. Kode ‘empek-empek’ sendiri merujuk istilah untuk menyebut duit.

     2.  Apel Malang dan Apel Washington

Persidangan kasus korupsi dan suap wisma atlet Jakabaring, Palembang, mengungkapkan beberapa istilah untuk menyebutkan duit suap. Dua diantaranya adalah Apel Malang dan Apel Washington. Ada Apel Malang yang menunjuk untuk duit rupiah sedangkan Apel Washington ditujukan untuk menyebut duit dollar.

    3.  Kacang Pukul

Sandi ini digunakan terdakwa kasus suap Gubernur Riau nonaktif Annas Maamun dan Gulat Medali Emas Manurung. Hal ini terungkap dari kesaksian ajudan Annas, Triyanto, saat bersaksi di pengadilan tindak pidana korupsi.

Sebenarnya, kacang pukul adalah sebutan untuk penganan yang terbuat dari kacang dan gula. Kacang pukul merupakan makanan ringan Khas Rokan Hilir -daerah di mana Annas pernah menjabat sebagai bupati.

     4.   Kode Ekor dan Ton Emas

Dalam pengacara kasus dugaan korupsi dua orang kuat di Banten, Atut Chosiyah, dan Chaeri Wardana, istilah “Ekor” muncul dari pengakuan Susi Tur Andayani. Susi menggunakan kata sandi “Ekor” untuk mengandaikan pembayaran uang suap kasus sengketa pemilihan Bupati Lebak, Banten.

Kode lain yang terungkap dalam persidangan kasus ini adalah “ton emas”. Kalimat itu berdasarkan keterangan yang dihimpun di pengadilan lantas tersebar lewat media menunjukan untuk satuan miliar rupiah. Satu ton emas berarti Rp 1 miliar.

     5.  Pelumas


Pelumas kode ini masih digunakan oleh orang yang sama, yaitu Angie dengan Rosa. Saat menjadi saksi dalam kasus suap Wisma Atlet dengan terdakwa Muhammad Nazaruddin waktu itu, Rossa mengatakan, istilah pelumas artinya uang, sedangkan semangka mengarah kepada permintaan dana. Menurut Rosa, istilah itu sengaja diciptakan oleh Angie. “Istilah itu Angelina Sondakh yang bilang. Katanya biar tidak terlalu vulgar,” tutur Rosa.

Para koruptor juga sering menggunakan istilah kata ‘pelumas’ dalam melancarkan aksinya. Kata sandi ini sebenarnya sudah sering dipakai oleh kaum awam namun dengan bahasa berbeda yakni ‘pelicin’. Kata sandi ini diartikan sebagai uang suap untuk memperlancar aksi.

     6.  Kopi Coro


Istilah ini terungkap dalam sidang kasus suap APBD Semarang, Soemarmo HS dalam agenda mendengarkan keterangan saksi pada Senin, (2/7/2012) di Pengadilan Tipikor, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Salah satu saksi yakni, Sekda Semarang, Ahmad Zainuri saat memberikan kesaksiannya.

Kata sandi tersebut dalam bahasa Jawa adalah kopi kecoak. Sesuai dengan maknanya yang tidak mengenakkan, kopi coro ini ternyata artinya juga tidak begitu mengenakkan bagi para koruptor, yaitu uang jatah yang sedikit.

“Kopi coro itu artinya kalau uang yang diberikan sedikit, namanya kopi coro,” jelas Ahmad Zainuri.

Ketua Majelis hakim, Marsudin Nainggolan pun menanyakan lebih lanjut tentang seberapa sedikit kopi coro tersebut.

“Sedikitnya berapa itu?” tanya Marsudin.

“Ya antara Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta,” jawab Zainuri.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: